The role of the Kurdish Independence Movement in shifting women’s roles in North Syria

Show simple item record

dc.contributor.advisor Dewi, Elisabeth A. Satya
dc.contributor.author Wirahman, Dzaky Putra
dc.date.accessioned 2023-04-26T02:54:12Z
dc.date.available 2023-04-26T02:54:12Z
dc.date.issued 2021
dc.identifier.other skp41160
dc.identifier.uri http://hdl.handle.net/123456789/14926
dc.description 9647 - FISIP en_US
dc.description.abstract Perang Saudara Suriah adalah konflik bersenjata yang sejak 2011 hingga masa penulisan skripsi ini, masih berlangsung. Sebuah pemerintah de facto telah mengontrol daerah Suriah Utara, yang juga dikenal sebagai Rojava. Negara kuasi ini dikelola oleh PYD, cabang dari gerakan Kemerdekaan Kurdi yang sejak awal tahun 1900-an telah mencoba untuk mendirikan negara bangsa yang berdaulat bagi rakyat Kurdi. Suku Kurdi adalah etnis minoritas yang asli dari wilayah tersebut dan secara bahasa dan budaya berbeda dari banyak kelompok etnis lain yang berasal dari Timur Tengah – dan dengan demikian, mereka memiliki struktur sosial yang unik. Salah satu sisi unik masyarakat Kurdi yang sudah lama dikagumi dan terbukti adalah betapa pentingnya perempuan dan peran mereka dalam masyarakat Kurdi. Penelitian ini dilakukan guna menjawa pertanyaan penelitian: ‘Peran apa yang dimainkan oleh gerakan kemerdekaan Kurdi di Suriah Utara untuk memfasilitasi pergeseran peran wanita dalam masyarakat?’ Perempuan Kurdi menikmati tingkat penghormatan yang relatif lebih tinggi di masyarakat dibandingkan dengan perempuan dari kelompok etnis lain di wilayah tersebut. Selama perang saudara, pemerintah yang berpusat di Rojava telah menurunkan ribuan tentara perempuan sukarelawan untuk bertempur, hal yang jarang terjadi di masyarakat Timur Tengah. Pemerintah Rojava juga telah mengimplementasikan undang-undang yang memberi perempuan lebih banyak wewenang dalam proses pengambilan keputusan komunal. Penelitian yang menggunakan teoritis konstruktivisme ini menemukan bahwa revisionisme budaya radikal dilakukan oleh PYD telah mengubah banyak aspek dari budaya dan struktur masyarakat Rojava. Gerakan revisionis budaya ini dimotivasi oleh perubahan sosial struktural, yang telah memfasilitasi pergeseran peran perempuan dalam masyarakat. en_US
dc.language.iso Indonesia en_US
dc.publisher Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik - UNPAR en_US
dc.subject Suriah en_US
dc.subject Kurdi en_US
dc.subject Nasionalisme Kurdi en_US
dc.subject YPG en_US
dc.subject YPJ en_US
dc.subject PYD en_US
dc.subject Rojava en_US
dc.subject Perempuan en_US
dc.subject Feminisme en_US
dc.subject Perang Saudara Suriah en_US
dc.subject budaya en_US
dc.subject perubahan sosial en_US
dc.title The role of the Kurdish Independence Movement in shifting women’s roles in North Syria en_US
dc.type Undergraduate Theses en_US
dc.identifier.nim/npm NPM2017330127
dc.identifier.nidn/nidk NIDN0417117302
dc.identifier.kodeprodi KODEPRODI609#Ilmu Hubungan Internasional


Files in this item

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record

Search UNPAR-IR


Advanced Search

Browse

My Account