Teorisasi fenomena penguasaan teritori skala meso di Blok Seruni 5, Rusunawa Bumi Cengkareng Indah, DKI Jakarta

Show simple item record

dc.contributor.advisor Arifin, Lilianny Sigit
dc.contributor.advisor Dwisusanto, Yohanes Basuki
dc.contributor.author Lianto, Fermanto
dc.date.accessioned 2018-07-27T07:19:49Z
dc.date.available 2018-07-27T07:19:49Z
dc.date.issued 2018
dc.identifier.other 84214001
dc.identifier.uri http://hdl.handle.net/123456789/6599
dc.description.abstract Kebutuhan ruang akibat bertambahnya jumlah penghuni dan barang-barang, membuat penghuni rumah susun sederhana (rusuna) berbagi koridor/selasar untuk meletakkan barang-barang pribadi dan bersosialisasi. Koridor/selasar ini akan membentuk pola perilaku dalam beradaptasi dan menimbulkan fenomena penguasaan teritori, terutama pada skala meso (lingkup bangunan). Penelitian ini bertujuan memahami bentuk penguasaan dan pemahaman teritori versi penghuni, untuk itu dipakai metode Grounded Theory (GT). Metode GT dipilih untuk membangun sebuah teori yang bersifat substantif versi penghuni dengan kasus studi blok Seruni 5, Rusunawa Bumi Cengkareng Indah di DKI Jakarta. Metode GT yang dipakai merupakan gabungan dari versi Corbin yang dielaborasi dengan versi Charmaz untuk mendapatkan langkah-langkah operasional yang disesuaikan dengan disiplin ilmu arsitektur. Hasil penelitian ditemukan bahwa selasar mempunyai peran penting dalam perwujudan teritori sementara sebagai teras/emper untuk tempat “ngerumpi”/”ngeriung” dan pemahaman teritori ke-guyub-an sebagai satu keluarga besar yang tinggal dalam satu atap. Teori penguasaan teritori yang dapat diangkat dari temuan lapangan yaitu terbentuknya teori baru tentang karakteristik teritori skala meso, adalah hard territory dan soft territory. Pemahaman hard territory merupakan sebuah penguasaan teritori yang bersifat tangible maupun intangible, tetap atau tidak berubah (fix), tegas, dan jelas keberadaannya pada sebuah ruang (baca teras selasar) yang dapat dilihat, dimiliki atau dikuasai dan dipertahankan, serta diakui oleh penghuni lainnya. Sedangkan pemahaman soft territory merupakan sebuah penguasaan teritori yang bersifat tangible maupun intangible yang memungkinkan terjadinya pergeseran yang bersifat fleksibel dan lunak karena merupakan ekspresi dari emosi kekeluargaan dan secara budaya disebut guyub, sehingga penguasaan soft territory terjadi bukan sekedar toleransi, tetapi lebih karena mereka mengutamakan rasa kekeluargaan demi kebersamaan hidup dalam satu atap (baca rusun), dan harmonisasi hubungan ke-guyub-an dalam sebuah komunitas. en_US
dc.language.iso Indonesia en_US
dc.publisher Program Doktor Arsitektur Program Pascasarjana Universitas Katolik Parahyangan en_US
dc.subject Teritori Skala Meso en_US
dc.subject Rusunawa en_US
dc.subject Grounded Theory en_US
dc.subject Guyub en_US
dc.subject Hard and Soft Territory en_US
dc.title Teorisasi fenomena penguasaan teritori skala meso di Blok Seruni 5, Rusunawa Bumi Cengkareng Indah, DKI Jakarta en_US
dc.type Dissertations en_US


Files in this item

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record

Search UNPAR-IR


Advanced Search

Browse

My Account